Duaaktivitas penyebab HIV dan AIDS yang utama. Virus penyebab HIV menyebar dari satu orang ke lainnya lewat cairan tubuh, seperti darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, dan cairan vagina. Pertukaran keempat cairan tubuh ini sangat lumrah terjadi saat hubungan seksual.
Dipublish tanggal Feb 22, 2019 Update terakhir Nov 9, 2020 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca 6 menit "HIV/AIDS" kenapa penulisannya demikian, karena memang ini merupakan dua kondisi medis yang saling berkaitan. HIV/AIDS adalah penyakit yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia, di mana sistem kekebalan tubuh yang menjadi benteng perelindungan tubuh terhadap penyakit, menjadi rusak karenanya. Acquired Immune Deficiency Syndrome disingkat AIDS adalah kondisi tahap akhir dari infeksi Human Immunodeficiency Virus HIV. Jika seseorang memiliki HIV positif dan tidak diobati, maka kondisi akan memburuk dan akan menjadi penyakit AIDS di mana sistem kekebalan tubuh begitu terganggu sehingga berhenti bekerja defisiensi. Sistem kekebalan tubuh tidak mampu lagi melindungi seseorang dari penyakit atau infeksi. Penyakit HIV/AIDS ini menjadi momok yang mengerikan karena virus penyebabnya dapat ditularkan dari orang dengan HIV positif melalui pertukaran cairan tubuh, yakni melalui hubungan seksual, transfusi darah, penggunaan jarum suntik terkontaminasi atau menular dari ibu ke anak selama kehamilan. Meskipun belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV/AIDS, obat ART telah terbukti sangat efektif menghambat perkembangan penyakit ini. Penyebab HIV AIDS dan Cara Penularan Mencegah lebih baik daripada mengobati, itulah kata-kata yang pas dalam kondisi ini. Virus HIV mudah menyebar melalui hal-hal di bawah ini Berhubungan seksual dengan penderita HIV positif tanpa pelindung kondom Berisiko tinggi pada orang yang memiliki partner seksual yang banyak berganti-ganti pasangan Transfusi darah yang terkontaminasi Penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi atau bersama-sama Penggunaan pernak-pernik yang tidak aman, misalnya tindik dengan alat yang tidak steril, atau menggambar tato dengan alat terkontaminasi. Ibu ke anak saat dalam kandungan, kelahiran, menyusui Virus HIV tidak dapat bertahan lama di luar tubuh manusia dan mati dengan cepat ketika cairan tubuh telah mengering. Inilah sebabnya mengapa HIV tidak dapat disebarkan oleh serangga, tidak dapat menyebar seperti virus flu memegang permukaan fasilitas umum, batuk, bersin, dll Gejala HIV/AIDS Gejala HIV dapat bervariasi dari orang ke orang. Pada tahap awal, beberapa orang mengalami gejala penyakit yang mirip dengan flu seperti demam, sakit kepala atau sakit tenggorokan selama beberapa minggu lalu gejala menghilang. Seseorang yang terinfeksi HIV bisa bertahan selama bertahun-tahun bahkan tanpa mengembangkan gejala apapun. Apabila hal ini dibiarkan selama bertahun-tahun, maka kondisi bisa memburuk hingga akhir sistem kekebalan tubuh menjadi lumpuh dan bisa berlahir ke tahap penyakit berikutnya yaitu AIDS. Pada penyakit AIDS seseorang akan sangat rentan terkena penyakit infeksi, yang kita kenal dengan istilah infeksi oportunistik terjadi ketika daya tahan tubuh lemah, padahal jika daya tahan tubuh normal infeksi ini tidak berbahaya. Infeksi oportunistik pada orang dengan AIDS dapat mempengaruhi hampir semua organ tubuh dan inilah yang membuat penyakit AIDS menjadi membahayakan. Beberapa gejala dan ciri-ciri HIV yang telah berubah menjadi AIDS meliputi Demam terus menerus. Kelelahan ekstrim yang tidak berhubungan dengan stres atau kurang tidur. Diare persisten terus menerus. Berat badan menjadi turun gizi buruk. Pembengkakan kelenjar getah bening di leher, pangkal paha, dan lain-lain. Sakit atau sulit menelan. Sering mengalami sariawan, atau sariawan tak kunjung sembuh. Sakit kepala, kebingungan dan pelupa Peningkatan risiko terkena berbagai jenis kanker seperti sarkoma kaposi, limfoma, kanker serviks, dan lain-lain. Namun walaupun HIV/AIDS sangat berbahaya dan sangat menular, kita tidak boleh mengucilkan penderita HIV/AIDS dan masih bisa beraktivitas sebagaimana orang normal, karena HIV/AIDS tidak akan tertular melalui Orang bersalaman Berciuman Orang berpelukan Makan bersama / piring dan gelas Tinggal serumah Gigitan Nyamuk Stadium HIV/AIDS Stadium satu Infeksi akut atau seroconvertion Terdapat dua hingga enam minggu masa jeda window periode setelah terpapar dengan human immunodeficincy virus yang mana orang tersebut menjadi terinfeksi. Selama stadium ini, tubuh berusaha untuk melawan virus, hingga menyebabkan gejala awal yang seringkali mirip dengan gejala flu. Stadium ini biasanya berlangsung satu hingga dua minggu dan diikuti oleh stadium tanpa gejala. Stadium dua Stadium Asimptomatis/Tanpa Gejala Jika gejala awal terlalui, hal ini berarti sudah melewati stadium kedua. Infeksi saat ini mengambil kendali tubuh saat sistem kekebalan tubuh kalah dalam perlawanan sepenuhnya. Hal ini biasanya terjadi dalam periode yang lama, kadang berlangsung selama sepuluh tahun atau lebih lama, dan selama itu pasien tidak merasakan gejala sama sekali. Namun di dalam tubuh, virus secara bertahap menyerang sel-T CD4, yang seharusnya secara normal berada di antara 450 hingga 1400 sel per mikroliter. Ini adalah stadium dimana banyak individu yang terinfeksi tanpa diketahui menularkan virus tersebut ke orang lain. Stadium Tiga AIDS Stadium ketiga secara luas dikenal sebagai AIDS, yang merupakan stadium akhir infeksi ini. Faktor yang menentukan stadium ini adalah saat jumlah sel CD4 turun hingga dibawah 400 per mikroliter. Bila ada tanda-tanda seperti gejala HIV/AIDS segera hubungi tenaga ahli dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tidak semua dokter memiliki keahlian atau terlatih dalam menangani HIV atau AIDS, tetapi dokter umum dapat mendiagnosa penyakit dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lainnya. Diagnosis Semua jenis pemeriksaan atau tes HIV untuk menegakkan diagnosis didasarkan pada dasar-dasar imunologi. Berikut ini beberapa informasi singkat tentang tes lanjutan untuk diagnosis HIV/AIDS Tes untuk mendeteksi antigen HIV Tes untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV Uji ELISA Uji diferensiasi antibodi Uji Western blot Tes antigen p24 PCR untuk tes HIV RNA plasma Langkah Pengobatan Ada dua tujuan utama dari pengobatan HIV, yaitu mencegah virus merusak sistem kekebalan tubuh dan menunda atau menghentikan perkembangan infeksi. Hal ini dapat dicapai melalui Obat Antiretroviral ARV yang digunakan untuk mengobati dan mencegah infeksi HIV bekerja dengan cara menghentikan atau mengganggu reproduksi virus dalam tubuh. ARV tidak menyembuhkan infeksi HIV melainkan untuk mencegah replikasi virus lebih lanjut sehingga dengan demikian dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. Obat ini harus diminum secara teratur pada waktu yang tepat setiap hari. Jika tidak, akan membuat virus bermutasi dan menyebabkan resistensi terhadap pengobatan. Di samping pengobatan dengan antiretroviral, orang dengan HIV sangat membutuhkan konseling dan dukungan psikososial. Kualitas hidup juga yang tinggi juga perlu dipertahankan dengan kebersihan dasar, nutrisi yang cukup dan air bersih. Komplikasi Orang dengan AIDS sangat rentan terhadap infeksi. Beberapa jenis infeksi dan penyakit berikut ini sering menyerang orang dengan HIV/AIDS Tuberkulosis TBC Herpes Simplex Sarkoma Kaposi Limfoma Pneumonia Pneumocystis PCP Sariawan Infeksi cytomegalovirus CMV Toksoplasmosis Cara Mencegah HIV/AIDS Dengan membatasi paparan faktor risiko, kita dapat mengurangi risiko terkana infeksi HIV. Langkah-langkah pencegahan yang dapat kita lakukan meliputi Penggunaan kondom dengan benar dan konsisten saat berhubungan seksual yang penuh dengan resiko. Setia dengan pasangan, hindari berganti-ganti partner. Bagi tenaga medis, gunakan alat pelindung diri saat menolong pasien contohnya menggunakan sarung tangan. Minum obat ARV segera setelah 'berhubungan' ketika diketahui bahwa pasangan positif HIV, atau seorang tenaga medis yang terluka oleh alat-alat medis yang dicurigai terkontaminasi. Obat antiretroviral digunakan dalam waktu 72 jam setelah paparan HIV untuk mencegah infeksi. Penularan Ibu ke Bayi selama kehamilan, persalinan atau menyusui dapat sepenuhnya dicegah jika ibu dan anak diberikan obat antiretroviral Sunat atau khitan pada laki-laki dapat mengurangi risiko infeksi HIV pada pria sekitar 60%. Penggunaan alat-alat steril yang menimbulkan perlukaan pada tubuh, misalnya jarum suntik, pisau bedah, dan sebagainya. 10. Fakta-fakta tentang HIV/AIDS HIV/AIDS adalah masalah kesehatan yang meresahkan seluruh dunia. Ada 32juta orang terjangkit HIV/AIDS per 2016 di seluruh dunia HIV tidak sama dengan AIDS HIV/AIDS belum bisa disembuhkan dan tidak ada vaksin yang dapat mencegah penularan HIV. Semua suku,ras,sex,etnis,orientasi sexual memiliki kemungkinan yang sama besar dalam terjangkit HIV/AIDS Penularan HIV/AIDS paling banyak tertular melalui jarum suntik, termasuk tato dan pemasangan anting. Dan yang ke2 adalah melalui hubungan seksual. HIV merupakan penyumbang terbesar dalam infeksi TBC di seluruh dunia. HIV/AIDS tidak akan tertular dengan cara memakai peralatan makan yang sama, gigitan nyamuk atau berenang di kolam renang yang sama dengan penderita HIV/AIDS. Walaupun tidak bisa disembuhkan, namun HIV/AIDS bisa ditangani dengan konsumsi obat ARV yang dikonsumsi seumur hidup. Saat ini kemungkinan penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi bisa diminimalisasi hingga 1% Saat seseorang tertusuk jarum suntik yang mengandung virus HIV, infeksi HIV bisa dicegah dengan pemberian ARV profilaksis sama seperti terapi ARV pada pasien HIV selama 6 bulan dan diskrining tiap 1 bulan sekali, walaupun tidak menjamin 100% bebas dari infeksi. Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat PerbedaanHIV dan AIDS. HIV adalah singkatan dari human immunodeficiency virus. HIV adalah virus yang menyebabkan penyakit yang menyerang imun tubuh sehingga tubuh menjadi rentan terhadap penyakit lainnya. AIDS adalah singkatan dari acquired immunodeficiency syndrome. AIDS adalah sekumpulan gejala atau penyakit yang muncul akibat dari tahap lanjut infeksi HIV. Orang dengan AIDS jika tidak segera ditangani bisa berpotensi mengancam jiwa. Penyakit HIV Maka teorinya, Anda dapat saja terkena HIV dan AIDS sekaligus. Namun begitu, tidak semua pengidap HIV akan otomatis pasti memiliki AIDS di kemudian hari. Anda bisa saja mengidap HIV, tapi tidak terkena AIDS. Berkat kemajuan dalam pengobatan medis, orang yang hidup dengan HIV dapat hidup sehat panjang umuur dan berkualitas hampir sama dengan orang normal lainnya. Kebanyakan penderita penyakit Human Immunodeficiency Virus bisa berhidup selama bertahun-bertahun lamanya bahkan lebih dari 10 tahun sebelum mengalami AIDS. Namun, Anda yang terdiagnosis positif AIDS sudah pasti memiliki infeksi HIV. Maka itu, mendapatkan pengobatan yang tepat adalah kunci penting bagi orang dengan HIV agar tidak sampai mengalami AIDS. 3. Gejala HIV dan AIDS berbeda Perbedaan lain antara HIV dan AIDS yang cukup signifikan adalah gejala masing-masingnya. Ini termasuk perbedaan wujud gejala yang muncul, tingkat keparahan gejala yang dirasakan antara orang dengan HIV dan orang dengan AIDS, dan efek penyakitnya pada tubuh Anda. Infeksi HIV biasanya butuh waktu 10 tahun semenjak paparan pertamanya sampai bisa menampilkan gejala yang jelas. Itu kenapa orang yang memiliki virus HIV bisa saja tidak menyadari bahwa dirinya sudah terjangkit sampai bertahun-tahun lamanya. Berikut penjelasan lebih lengkapnya mengenai perbedaan gejala HIV dan AIDS. Gejala HIV Pada awalnya, virus HIV biasanya memunculkan gejala mirip flu biasa dalam dua sampai empat minggu setelah infeksi. Gejala yang mungkin terasa dalam minggu-minggu awal meliputi Demam Kelelahan Ruam di kulit yang tidak gatal Pembengkakan kelenjar getah bening Nyeri otot Sakit tenggorokan Berkeringat di malam hari Ada luka di sekitar mulut mirip sariawan Gejala HIV awal dapat cepat mereda karena sistem kekebalan tubuh Anda pada tahap ini masih sanggup mengendalikannya. Periode waktu ini disebut sebagai infeksi akut. Seiring waktu, jumlah virus HIV akan terus meningkat jika tidak diobati dan dapat mengarah pada periode laten. Periode laten ini dapat berlangsung hingga bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala. Gejala AIDS Ketika infeksi Human Immunodeficiency Virus sudah berlangsung lama dan berkembang menjadi AIDS, pengidap biasanya mengalami beberapa gejala khas yang lebih berat. Gejala AIDS bisa berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain dan cukup bisa diidentifikasi. AIDS memiliki gejala yang jauh lebih parah dibandingkan dengan Human Immunodeficiency Virus. Hal ini terjadi karena orang dengan AIDS biasanya memiliki jumlah sel CD4 atau sel T yang menurun drastis. Tanpa sel CD4 yang cukup, tubuh akan mengalami kesulitan untuk melawan penyakit. Akibatnya, Anda akan lebih mudah sakit terserang infeksi bahkan untuk infeksi yang biasanya tidak membuat Anda sakit. AIDS biasanya menyerang ketika seseorang telah terinfeksi HIV selama 10 tahun dan tanpa mendapatkan perawatan. Adapun berbagai gejala yang biasanya muncul ketika Anda terjangkit AIDS, yaitu Sariawan, adanya lapisan putih tebal di lidah atau mulut akibat infeksi jamur Sakit tenggorokan Penyakit radang panggul kronis Rentan terserang infeksi jenis apa pun Merasa sangat lelah dan pusing Sering sakit kepala Berat badan menurun drastis dalam waktu cepat tanpa sebab yang jelas Lebih mudah mengalami memar Sering mengalami diare, demam, dan keringat di malam hari Kelenjar getah bening yang bengkak di tenggorokan, ketiak, atau selangkangan Sering mengalami batuk kering yang cukup lama Sesak napas Perdarahan dari mulut, hidung, anus, atau vagina Ruam kulit Mati rasa di tangan atau kaki Kehilangan kendali otot dan refleks Mengalami kelumpuhan 6. Perbedaan cara diagnosis HIV dan AIDS Selain dari identifikasi gejala, perbedaan HIV dan AIDS juga ditentukan berdasarkan cara dan hasil diagnosis medis yang dilakukan. Cara diagnosis HIV Ketika terinfeksi HIV, sistem kekebalan tubuh Anda menghasilkan antibodi khusus yang melawan virus tersebut. Untuk memeriksanya, dokter dapat menganjurkan tes darah atau air liur untuk mendeteksi antibodi virus HIV dan apa Anda telah terinfeksi atau belum. Meski demikian, tes tersebut hanya efektif untuk beberapa minggu setelah infeksi. Tes lainnya bertujuan mencari antigen yang merupakan protein hasil produksi virus HIV. Tes ini dapat mendeteksi HIV hanya beberapa hari setelah infeksi. Kedua tes ini sama-sama akurat dan mudah untuk dijalankan. Cara diagnosis AIDS Sementara itu, cara diagnosis AIDS berbeda. Ada beberapa faktor yang dapat menentukan kapan infeksi HIV laten dalam tubuh telah berubah menjadi AIDS. Misalnya, berapa banyak jumlah sel CD4 yang tersisa dalam tubuh. Seseorang yang sehat dan tidak terinfeksi HIV bisa memiliki sekitar 500 sampai sel CD4 per 1 cc/1 ml darah. Ketika jumlah sel tersebut turun hingga 200 atau bahkan kurang, pengidap HIV dikatakan telah memiliki AIDS. Faktor lain yang menunjukkan keberadaan AIDS adalah kehadiran infeksi oportunistik. Pada orang sehat dengan daya tahan tubuh prima, infeksi ini tidak akan otomatis langsung membuat mereka jatuh sakit. Sementara pada orang dengan AIDS infeksi ini bisa sangat melemahkan. Itu sebabnya infeksi ini disebut “oportunistik”. 7. Perbedaan angka harapan hidup penderita HIV dan AIDS Perbedaan HIV dan AIDS juga dapat dilihat dari angka harapan hidup. Kedua penyakit tersebut sama-sama dapat memangkas angka usia pengidapnya jika terus dibiarkan tanpa pengobatan. Pada orang pengidap penyakit HIV saja, umumnya bisa hidup lebih lama sesuai kondisi kesehatannya masing-masing. Ini hanya berlaku apabila penderita HIV rutin konsumsi obat antiretroviral setiap hari untuk menonaktifkan virusnya, ya. Sedangkan pada orang dengan HIV yang telah memiliki AIDS, biasanya dapat bertahan hidup sekitar 3 tahun. Begitu Anda terjangkit infeksi oportunistik yang berbahaya, harapan hidup tanpa pengobatan turun hingga sekitar 1 tahun. Perbedaan HIV dan AIDS dari angka harapan hidup terjadi karena akan sangat sulit untuk memperbaiki kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. Namun berkat kemajuan teknologi medis modern, harapan hidup seorang penderita AIDS saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Dalam perbedaan HIV dan AIDS ini, terdapat banyak pengidap HIV yang bahkan tidak mengidap AIDS seumur hidupnya. Dikutip dari laporan Kementerian Kesehatan Indonesia, tren angka kematian akibat AIDS di Indonesia juga terbukti dilaporkan cenderung terus menurun. Angka ini mengalami penurunan dari 13,21% pada tahun 2004 menjadi 1,08% pada Desember 2017. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pengobatan HIV/AIDS yang sudah dilakukan sejauh ini berhasil mengendalikan perkembangan penyakitnya. HIV dan AIDS sama-sama tidak bisa disembuhkan Dari sekian banyak perbedaan HIV dan AIDS yang telah disebutkan, HIV dan AIDS juga punya persamaan. Persamaan keduanya adalah sama-sama tidak bisa disembuhkan. Namun, bukan berarti bahwa pengidap HIV dan AIDS tidak memiliki hak untuk hidup sehat dan bahagia, ya. Meski tidak bisa disembuhkan, ada beberapa obat yang biasanya diberikan untuk membantu mengatasi gejala dan memperbaiki kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS ODHA. HIV bisa diobati dengan terapi antiretroviral ART. ART membantu mengurangi jumlah virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh Anda. Biasanya obat yang satu ini direkomendasikan untuk semua orang dengan HIV, terlepas dari berapa lama ia memiliki virus tersebut di dalam tubuhnya. Selain itu, ART juga mengurangi risiko Anda untuk menularkan penyakit ini ke orang lain jika diminum sesuai dengan resep. ART biasanya diberikan dengan menggunakan kombinasi 3 obat HIV atau lebih untuk membantu menurunkan jumlah HIV di dalam tubuh. Tiap orang biasanya akan diberikan rejimen atau kombinasi obat yang berbeda sesuai kondisi tubuhnya. Jika obat yang diresepkan ini ternyata tidak memberikan efek yang signifikan, dokter akan kembali menyesuaikannya. Berdasarkan informasi dari Department of Health and Human Services, ketika seseorang terdiagnosis HIV positif maka saat itu juga ia mulai harus memulai pengobatan dengan ART. Memulai pengobatan sedini mungkin membantu memperlambat perkembangan HIV. Dengan begitu, Anda bisa tetap sehat tanpa takut kondisi akan semakin memburuk apalagi hingga terkena AIDS. Menunda pengobatan sama saja membiarkan virus merusak sistem kekebalan tubuh Anda dan meningkatkan risiko diri terkena AIDS. Untuk itu, lakukan berbagai perawatan seperti yang direkomendasikan dokter pada Anda. Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.HIV human immunodeficiency virus adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit. HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS acquired immunodeficiency syndrome. AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya. Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta ASI. Perlu diketahui, HIV tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, atau sentuhan fisik. HIV adalah penyakit seumur hidup. Dengan kata lain, virus HIV akan menetap di dalam tubuh penderita seumur hidupnya. Meski belum ada metode pengobatan untuk mengatasi HIV, tetapi ada obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita. HIV dan AIDS di Indonesia Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2019, terdapat lebih dari kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, kasus HIV paling sering terjadi pada heteroseksual, diikuti lelaki seks lelaki LSL atau homoseksual, pengguna NAPZA suntik penasun, dan pekerja seks. Sementara itu, jumlah penderita AIDS di Indonesia cenderung meningkat. Di tahun 2019, tercatat ada lebih dari penderita AIDS dengan angka kematian mencapai lebih dari 600 orang. Akan tetapi, dari tahun 2005 hingga 2019, angka kematian akibat AIDS di Indonesia terus mengalami penurunan. Hal ini menandakan pengobatan di Indonesia berhasil menurunkan angka kematian akibat AIDS. Gejala HIV dan AIDS Kebanyakan penderita mengalami flu ringan pada 2–6 minggu setelah terinfeksi HIV. Flu bisa disertai dengan gejala lain dan dapat bertahan selama 1–2 minggu. Setelah flu membaik, gejala lain mungkin tidak akan terlihat selama bertahun-tahun meski virus HIV terus merusak kekebalan tubuh penderitanya, sampai HIV berkembang ke stadium lanjut menjadi AIDS. Pada kebanyakan kasus, seseorang baru mengetahui bahwa dirinya terserang HIV setelah memeriksakan diri ke dokter akibat terkena penyakit parah yang disebabkan oleh melemahnya daya tahan tubuh. Penyakit parah yang dimaksud antara lain diare kronis, pneumonia, atau toksoplasmosis otak. Penyebab dan Faktor Risiko HIV dan AIDS Penyakit HIV disebabkan oleh human immunodeficiency virus atau HIV, sesuai dengan nama penyakitnya. Bila tidak diobati, HIV dapat makin memburuk dan berkembang menjadi AIDS. Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seks vaginal atau anal, penggunaan jarum suntik, dan transfusi darah. Meskipun jarang, HIV juga dapat menular dari ibu ke anak selama masa kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan adalah sebagai berikut Berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan tanpa menggunakan pengaman Menggunakan jarum suntik bersama-sama Melakukan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan cairan tubuh manusia tanpa menggunakan alat pengaman diri yang cukup Lakukan konsultasi ke dokter bila Anda menduga telah terpapar HIV melalui cara-cara di atas, terutama jika mengalami gejala flu dalam kurun waktu 2–6 minggu setelahnya. Pengobatan HIV dan AIDS Penderita yang telah terdiagnosis HIV harus segera mendapatkan pengobatan berupa terapi antiretroviral ARV. ARV bekerja mencegah virus HIV bertambah banyak sehingga tidak menyerang sistem kekebalan tubuh. Pencegahan HIV dan AIDS Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari dan meminimalkan penularan HIV Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah Tidak berganti-ganti pasangan seksual Menggunakan kondom saat berhubungan seksual Menghindari penggunaan narkoba, terutama jenis suntik Mendapatkan informasi yang benar terkait HIV, cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya, terutama bagi anak remaja
PenyebabHIV dan AIDS. Virus HIV terbagi menjadi dua tipe utama, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Pada 90% kasus, infeksi HIV disebabkan oleh HIV-1. Sementara, HIV-2 diketahui hanya menyerang sebagian kecil orang, khususnya di Afrika Barat. Penularan HIV terjadi saat cairan tubuh penderita (bisa darah, sperma, atau cairan vagina), masuk ke dalam tubuh orang AIDSatau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan tahapan akhir dari penyakit infeksi HIV. HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini merupakan virus yang bisa menyebabkan AIDS. HIV akan menyerang sistem kekebalan tubuh, yang mana adalah pertahanan tubuh dari berbagai penyakit. .